Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2008

We Care

Tadi pagi aku sempet nonton berita.
Berita pertama tentang korban Lapindo yang ribut-ribut ntah kenapa (aku kurang perhatiin).
Berita kedua tentang keluarga yang mati kelaparan (bayangkan..mati kelaparan.. ) di daerah Sulawesi. God..ternyata masih ada masalah "kelaparan" di negeri ini.
Berita ketiga tentang korupsi.. (masalah basii).

Saat itu, aku bertanya dalam hati "Bapa..masihkah Kau peduli dengan bangsa ini? Adakah kau disini, turut menanggung segala beban permasalahan.." Meskipun aku tau jawabannya adalah "iya". senyum

Bapa selalu ada. Ia turut berduka dan merintih bersama kita. Turut menanggung penderitaan kita. Dulu..saat Lazarus meninggal, Yesus menangis. Saat dilanda badai, Yesus turut bersama dengan murid-muridnya di perahu. Ia ada dan tak pernah jauh.

Di masa sekarang, pertanyaannya juga harus di sesuaikan ama keadaan jaman. Pertanyaan itu kini di tujukan kepada kita selaku orang Kristen. Apakah kita peduli? Dimana kita saat penderitaan melanda bangsa ini? Apakah kita menampakkan wajah Kristus dan sudah menjadi alatNya untuk memperbaiki dunia?senyum

Saat bom atom pertama dijatuhkan di kota Hiroshima, Dr. Fumio Shigeto sedang berada satu mil dari pusat ledakan. Dengan ketakutan ia berlindung di balik beton sehingga ia selamat dari ledakan tersebut. Saat ledakan usai, ia mendapati di sekelilingnya berhamburan mayat dan manusia yang terluka..Udara saat itu dipenuhi dengan jeritan dan teriakan kesakitan dari ribuan orang. Ia sadar ia seorang dokter. Namun untuk dapat melakukan “sesuatu”, ia membutuhkan sepasukan perawat dan tenaga medis. Ia butuh berton-ton obat-obatan, juga ribuan ranjang rumah sakit. Apalah yang dapat ia lakukan..seorang dokter dan sebuah tas kecil berisi perlengkapan medisnya di suatu kondisi super duper dahsyat seperti itu?

Mengikuti nalurinya, sang dokter membuka tas nya dan merawat seorang lelaki terluka yang tergeletak di dekat kakinya.

Saat ini, kita mengalami keadaan yang serupa. Di tengah bencana nasional yang menimpa bangsa kita, apa yang sudah kita berikan untuk memperbaiki keadaan? Apa yang bisa dilakukan oleh satu orang biasa semacam kita untuk menghadapi tantangan seperti ini? Tuhan Yesus juga tergerak oleh belas kasihan setiap menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan seperti ini. Ia menjamah setiap yang sakit, mencelikkan yang buta, menyelamatkan setiap manusia. Sikap seperti itu lah yang sepertinya Allah kehendaki dari kita.

Tapi, kita kan engga punya jaring laba-labanya Spiderman. Dan mustahil kita bisa terbang seperti Superman..whusss…sampai di TKP buat menolong korban-korban yang berjatuhan. Dan Tuhan juga nyadar banget, ia menciptakan manusia dengan segala keterbatasannya alih-alih Superhero.Tuhan engga menuntut kita buat menolong semua orang ato menjadi penyelamat bangsa. Dan memang, kita engga akan mampu melakukannya. Namun, pelayanan sekecil apapun..yang dilakukan dengan hati setulus-tulusnya, yakinlah itu akan mendatangkan perubahan pada akhirnya. Jika saja semua manusia mau melakukannya..kita akan mampu mengubah dunia.

Jadi, inilah waktunya untuk menunjukkan kita sayang dan peduli. This is the time to show that we care. Bagaimanapun kondisi kita saat ini, Allah punya rancangan besar yang jauh lebih indah dari yang dapat kita pahami. Melampaui apa yang mampu kita pikirkan atau kita bayangkan.senyum


Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)

Selasa, 08 Januari 2008

Berharga di MataNya



Inilah tulisan pertamaku yang “benar-benar menulis” di tahun 2008. Waktu ternyata memang berjalan dengan engga terasa. Berjingkat cepat tanpa suara. Tau tau..sudah tanggal 8 Januari. Whew.

Rasanya engga ada yang terlalu berubah di tahun ini yah. Tinggi badanku engga nambah, nafsu makan juga teteup gede, penyakit malas belom terobati juga, dan after 8 days of new year, ternyata aku engga nambah kalem juga. Ikrar tinggallah ikrar. Hehehe..

Whatever lah, satu hal yang paling membahagiakan adalah aku selalu diingatkan ama Bapa “AnakKu..gimanapun kamu, bagaimanapun rupamu, siapapun dirimu..kamu tetep paling berharga di mataKu”. See, apa ada alasan buatku menyesali hidup?

Kotbah di minggu pertama bulan Januari, entah kebetulan entah tidak..juga membicarakan tentang manusia, bongkahan tanah hidup sok dan nyebelin yang dipandangNya berharga. Paginya aku bercerita tentang orang gila di Gerasa ama anak-anak sekolah minggu. Lalu Tuhan Yesus mengusir iblis-iblis itu dan membiarkan si legion (iblis yang jumlahnya banyak) merasuki babi-babi yang ada disana (kurang lebih 2000 ekor banyaknya). Babi-babi itu akhirnya terjun ke jurang dan mati. What a poor piggy..

Malemnya, suatu kebetulan yang luar biasa..pak Pendeta juga mengkotbahkan tentang hal itu. Tentang Tuhan Yesus yang memandang berharga semua orang, bahkan orang gila sekalipun..layak untuk diselamatkan. Tuhan Yesus, mengusir si Legion dan mengizinkan mereka merasuki 2000 ekor babi –yang kemudian mati- untuk memberikan suatu hidup baru yang lebih layak bagi si orang gila yang tidak pernah diperhatikan orang disekitarnya..

Coba aku pake hitungan manusia untuk menghitung..

Babi sekarang (di Pontianak, tentunya) kira-kira 1 kilo nya Rp. 30.000an. Satu ekor babi standarnya berapa kilo yah? Kita pukul rata 80 kilo aja deh.. (babi kurus kalee). Jadi = Rp. 30.000 x 80 x 2000 ekor babi = 4.800.000.000

Wooooooooww.. 4,8 milyar rupiah.

Seorang yang gila (bisa dibayangkan kan kondisi orang yang sudah gila bertahun-tahun kaya apa? Dekil, bau, rambutnya uda membatu mungkin..n jangan-jangan engga pake baju?? hehehe) dihargai Tuhan Yesus dengan 4,8 milyar. Dapet berapa biji laptop keluaran terbaru tuh? Aku engga tau harga laptop sekarang termahal berapa duit, tapi 4, 8 milyar adalah angka yang engga kecil. Untuk seorang yang sakit jiwa. Bagaimana dengan kamu yang pinter dan ganteng? Dengan kamu yang cantik dan bertalenta? Dengan diriku yang lucu nan menawan (wekeke, ciapeee de..). Tentu lebih…lebih dari itu.

Ya, lebih dari itu semua. Lebih dari hitungan manusia yang fana..Tuhan Yesus membayar harga yang mahal untuk keselamatan kita. Bukan dengan emas dan perak, tapi dengan darahNya. Cinta dan penghargaan mana lagi yang lebih besar dari kesediaan seorang anak Allah yang rela mati di kayu salib bagi pendosa seperti kita?

Guys, kalo Tuhan aja menghargai kita dengan begitu luar biasa..engga ada alasan bagi kita untuk merendahkan sesama, apalagi diri sendiri. Jadikan dirimu sebagai sebongkah tanah yang istimewa..karena udah kamu dibentuk dengan cinta dan di titipi suatu talenta yang unik dan luar biasa. Hargai dirimu sendiri dengan lebih lagi., hiduplah untuk menjadi terangNya di dunia yang makin hari makin gelap (abis engga pake Philips sih ya..).

Ketika sedang menulis ini, terlintas di benakku satu lagu

Kita semua dijadikannya indah

Serupa dan seturut gambarNya

Kita..manusia, sungguh berharga dimataNya..

Sungguh berharga bagi Dia..


Senin, 24 Desember 2007

Indahnya Pohon Natal itu, Bagaimana Dengan Hatimu..?


By: Eddy Chi


Perayaan natal mengungkapkan besarnya kasih Bapa kepada umat manusia. Anugerah yang luar biasa dengan lahirnya seorang juru selamat, Yesus Kristus, dengan membawa misi kasih Bapa kepada umat manusia. Peristiwa yang penuh sukacita ini dikenang kembali lewat perayaan natal.

Memasuki bulan Desember, nuansa perayaan natal semakin terasa. Hiasan-hiasan natal mulai dijual. Di toko-toko atau tempat belanja dapat ditemukan hiasan-hiasan bernuansa natal. Salah satu hiasan yang sangat identik dengan perayaan natal adalah pohon cemara atau pohon natal.

Ada beberapa cerita asal-usul pohon natal. Salah satunya adalah berasal dari seorang tokoh reformasi gereja, Martin Luther. Pada suatu malam, ketika berjalan pulang, ia melihat pohon cemara yang begitu indah. Cahaya bulan dan bintang pada malam itu menembus melewati celah-celah dedaunan membuat pohon tersebut tampak gemerlap. Akhirnya ia membawa pulang pohon cemara dan menghiasinya.

Pohon natal biasanya dihiasi dengan gantungan-gantungan kecil, bintang, rumbai-rumbai, dan lampu yang melilit pohon sehingga terlihat begitu indah dan gemerlap. Sungguh, pohon natal yang indah akan menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya. Ada perasaan indah dan senang tak kala melihat pohon natal, apalagi jika ditambah alunan lagu-lagu natal.

Tak kala melihat indahnya pohon natal, mungkin bisa menjadi satu bahan refleksi, sudahkah hati ini seindah atau bahkan jauh lebih indah dari pohon natal yang penuh dengan hiasan dan lampu gemerlap. Apakah tindakan-tindakan selama ini sudah menjadi hiasan bagi hati agar menjadi indah atau menjadi sampah yang mengotorkan hati.

Semoga perayaan natal kali ini bukan cuma sekedar perayaan biasa, bukan cuma masa untuk bertukar kado, bukan pula sekedar rutinitas tahunan biasa. Hiasilah hati dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan tanamkanlah menjadi suatu kerinduan, bukan rutinitas kehidupan. Tunjukkanlah kasih kepada Tuhan dengan sikap peduli dan kasih kepada sesama. Mulailah dengan orang-orang yang berada di sekitar, keluarga, teman, atau orang yang ditemui. Kiranya perayaan natal sungguh-sungguh boleh menjadi momen bagi hati untuk menjadi indah dengan semakin mengasihi Tuhan dan sesama. Amin.

Selamat Hari Natal.. :)


Selasa, 30 Oktober 2007

Marah


Hari Sabtu yang lalu saya marah ama si Eddy (tapi sekarang udah engga lagi sih). Sebabnya? Ia melakukan sesuatu yang saya anggap menyebalkan. Karena itupula saya jadi marah. Engga ada lagi malem mingguan, yang ada marah-marahan. Hahahaha..hari ini saya flash back, memutar kembali memory itu di otak saya dan semuanya jadi terasa lucu.

Marah..suatu aspek emosional pada manusia yang merupakan respon atas hal-hal yang tidak diinginkan atau disukainya. Katanya sih dapat mempengaruhi kondisi fisiologis, juga meningkatkan hormon adrenalin. N kalo uda engga ketulungan, marah meningkat menjadi ngamuk. Lebih klop lagi kalo ada lawan yang tepat, emosi biasanya dikeluarkan dalam bentuk hantam-hantaman. Set dah..bisa jadi tontonan menarik warga sekampung. Wekekekeke..

Sebagai anak Tuhan (ciee..ile, sok) kita di tuntut untuk "membangun" kalo marah. Bukannya engga boleh marah. Aje gile disuru kaga bole marah...bisa-bisa manusia pada sembelit semua (emang ada hubungannya?). Bener toh? Coba ubek-ubek seluruh isi Alkitab, emang ada Tuhan berfirman "Hai anakKu..jangan suka marah-marah yee". Carilah..dari jaman Nippon ke jaman Jepang, kalimat itu gak bakalan ditemukan. Kok bisa? Ya iyalah..kalimat itu kan firmannya Nie, bukan firman Tuhan (pasti dalem ati Tuhan bilang "dasar gak sopan ni anak.."). Noh..Tuhan aja bisa marah..

Ok, getting serious now..
Dibalik becandaan tadi, emang iya kok kita boleh marah. Sebagai gantinya "jangan marah", Bapa mengatakan "Janganlah terbenam matahari sebelom hilang amarahmu..". Artinya... boleh marah, asal marahnya jangan dibawa tidur. Nape? Iya..soale tar bangun-bangun, muka lo jadi imut, alias : Iii...muke tue. Hahahahaha...

Yang bikin dosa adalah..ketika marah, apa yang kita ucapkan menyakiti dan menusuk orang lain. Lagi trend banget kan sekarang, marah sambil mengucapkan "mantra-mantra" tertentu dan memboyong keluar seluruh isi kebun binatang sampe penghuni hutan Amazon. Nah..itu yang engga Tuhan inginkan terjadi pada kita. Marahlah yang membangun, bukan menjatuhkan. Ketika kita marah, jangan biarkan emosi yang mengontol kita, tapi kontrollah emosi kita sendiri. Sulit emang, dan saran saya..sebelom memulai marah...tarik napas yang panjaaaang, baru deh dikeluarkan pelan-pelan, biar engga terlalu mengejutkan. Hehehehe..

So, mari lah..kemari..hei, hei, hei (kok jadi nyanyi sih?)
Mari belajar untuk marah lebih baik.
Kemarin saya sudah melakukannya. Dan sukarelawan pertama yang tertimpa sial itu adalah........................ Eddy.
Wakakakakaka..



Rabu, 19 September 2007

Lukisan Kehidupan


Hidup itu indah. Seorang manusia yang selalu bersyukur akan mengatakan hidup ini emang indah.. Keindahan itu diwarnai oleh setiap krayon yang berbeda. Merah untuk semangat dan kebahagiaan, hijau untuk kedamaian, pink untuk cinta, biru untuk rindu....dan hitam untuk derita. Yeah..perpaduan warna warni inilah yang mewarnai hidup, membentuk suatu lukisan panjang kehidupan yang enak dan indah untuk dilihat oleh mata..ketimbang putih bersih yang datar..Tanpa warna. Tanpa emosi.

Tapi kadang kita bertanya tanya, mengapa ada hitam? Bukankah suatu lukisan akan tetap indah tanpa warna hitam? Apakah merah, kuning, hijau, biru..tidak cukup untuk memoleskan keindahannya? Biasa..protes manusiawi seorang manusia..
Padahal sang pelukis memaksudkan hitam untuk menegaskan keindahan warna warni lainnya..
Padahal maksud sang Pencipta , masalah itu adalah supaya kita bisa lebih menghargai kebahagiaan dan berkat yang ada..

Seringkala dalam hidup kita, kita memegang krayon hitam alias sedang dirundung masalah. Siapa sih yang engga pernah merasa susah? Terkadang..saat kita sedang berbeban berat, kita mengeluh pada Tuhan "Bapa..kapan ini akan berakhir..."
Tatkala kita betul betul tidak berdaya, kita berseru kepada Dia melalui doa, memohon pertolongan..Tapi kok rasanya semakin kita terpuruk..Tuhan semakin jauh, semakin cuek.
Pernah merasa demikian? Saya pernah..
Ketika saya membutuhkan jawaban yang cepat atas doa-doa saya..Tuhan kelihatannya tutup kuping aja.
Uuuuh..sebelll.

Sampai saya menyadari sesuatu, klo manusia adalah mahluk yang sombong. Ketika ia mengalami pencobaan, Ia datang meminta pertolongan kepada Tuhan namun ia tidak benar-benar datang dengan seluruh ketidakberdayaannya. Si sombong yang masih saja mengandalkan kekuatannya sendiri, dan ketika ia tidak mendapatkan jawaban atas doa-doanya..ia marah..ia sebel, kaya saya dulu. Hehehehe..

Kotbah minggu lalu adalah tentang berserah. Sepanjang hamba Tuhan membicarakan soal ketidakberdayaan manusia dan berserah kepada Bapa, saya terus merenungkan maknanya..dan memang sungguh luar biasa.
Ketika kamu datang dengan membawa seluruh bebanmu..berdoalah. Angkat tanganmu dan katakan "Tuhan..saya betul-betul tidak sanggup". Tanggalkan seluruh jubah kesombongan yang kamu banggakan, dan percayalah..Tuhan akan segera turun tangan untuk menolongmu. Sebesar apapun masalah yang kita hadapi, seberat apapun beban yang kita pikul saat itu..akan kelihatan sungguh tidak berarti dimata Tuhan. Bukankah ada pujian berkata :

"Disaatku tak berdaya..kuasamu yang sempurna.. Ketika ku percaya..mukjizat itu nyata.. Bukan karena kekuatan..namun RohMu ya Tuhan Ketika ku berdoa..mukjizat itu nyata..."

So..kalo suatu kali kita sedang memegang krayon hitam ditangan kita, jangan panik. Just raise your hand, angkat tanganmu. Biarkan Tuhan yang bekerja, menggantikan kita melukis diatas kanvas kehidupan kali itu. Dan percayalah..lukisan itu akan menjadi lukisan terindah yang pernah ada dalam hidup kita.

Monalisa-nya Michelangelo mah...bukan apa-apanya.

Kamis, 30 Agustus 2007

Perjalanan Hidup


Hidup..sebuah kata sederhana yang terdiri dari lima huruf saja, namun mewakili setiap tarikan napas manusia hingga ia pulang kembali kerumah Bapa.

Dalam kamus saya, hidup adalah sebuah perjuangan. Menjalani hidup ini sama saja seperti mengendarai sepeda disebuah jalan yang terkadang berliku, berbatu..atau mulus. Penuh dengan tikungan tikungan dan beberapa diantaranya sangat tajam. Saya benar-benar tidak dapat menebak, apa yang akan meyongsong saya dibalik tikungan tersebut..Apakah dibaliknya ada keteduhan..atau kegersangan yang kentara..atau jalanan yang lebih sulit, dengan tanjakan dan bebatuan tajam.

Ada kalanya saya merasa terlalu lelah untuk terus bersepeda. Ada saat-saat tertentu saya ingin sekali turun dari sepeda yang mungkin saat itu uda kempes bannya..berhenti dan menyerah begitu saja dipinggir jalan kehidupan, menunggu pertolongan datang. Tapi Tuhan selalu mengingatkan saya..bahwa apa yang saya jalani adalah perjalanan saya sendiri, rute yang telah saya pilih sendiri. Dan sekali saya berhenti..saya akan terus berdiam disana, sampai kapanpun.

Oleh karena itu..sambil menarik napas panjang, saya bangkit. Mungkin mendorong sepeda yang saat ini sudah tidak dapat dinaiki lagi. Kembali berjalan kaki, hingga akhirnya saya menemui sebuah tikungan yang baru. Dan percayalah..Bapa selalu mengerti segala kesulitan dan keletihan yang saya alami. Suatu bukti nyata Ia tidak pernah meninggalkan saya, sekalipun kehadiranNya tidak pernah terlihat disisi saya secara konkret.

Saat sepeda saya mengalami ban bocor atau kaki saya terluka karena terlalu banyak mengayuh..tikungan yang saya hadapi adalah kasih. Ia tahu saat itu saya benar-benar lelah. Dibalik tikungan itu, seudah menunggu sebuah pohon besar yang rindang, dengan keluarga saya menanti dibawahnya, teman-teman yang baik, kekasih, saudara..Semuanya siap untuk memeluk dan mengobati luka serta kelelahan yang saya alami.
Kehangatan yang luar biasa dari Bapa..ia titipkan kepada mereka, hanya untuk saya.

Saat ini, beberapa bulan mendatang..genap sudah 21 tahun saya bersepeda mengarungi hidup. Saya punya suatu tujuan akhir. Tujuan yang menjadi motivasi saya untuk terus bersemangat dalam menjalani hari-hari ini. Saya akan terus mengayuh sampai Ia berkata "Pulanglah kerumah.."

Bapa, terima kasih untuk setiap kejutan dibalik tikungan -tikungan itu. Setiap kejutan indah selalu menjadi penyembuh bagi saya..dan kejutan tidak menyenangkan itu, mendorong saya untuk semakin bertumbuh dan belajar lebih banyak lagi.
Saya ingin terus bergerak maju..karena saya penasaran, kejutan apa lagi yang menunggu saya dibalik tikunganMu berikutnya..

Sabtu, 04 Agustus 2007

Malaikat Penjual Kue


Ada seorang penjual kue yang setiap hari datang ke kantor. Tak pernah saya perhatikan dia sebelumnya, hanya saja hari ini..entahlah. Ada sesuatu yang menarik dari auranya ketika meneriakkan "Ai kue me??? (mau kue?)".

Perawakannya kurus. Sempat saya tanyakan umurnya, katanya 30 tahun. Entahlah benar atau tidak. Ada satu hal yang membuat saya meragukan jawabannya. Cacat mental. Pernah lihat seperti apa penampilan orang yang menderita cacat mental? Badannya kurus sekali..kaki dan tangannya hanya terlihat seperti batangan tulang yang terbungkus kulit. Begitulah.. Pakaiannya terkesan kumal, sandal yang dipakainya pun kelihatan sudah tua sekali. Dari semua sisi manusia yang ada padanya, semangatnya lah yang menarik bagi saya.

Siang dikota Pontianak, panasnya luar biasa. Namun ia tetap berjualan kue. Karena kasihan, nyaris setiap kali ia datang, orang-orang di kantor kami selalu membeli kuenya. Tapi rasanya emang enak juga sih.. Ia selalu datang dengan senyum keletihan namun semangat kerja yang saya lihat, sungguh luar biasa.

Hari ini, saat saya melihat ia entah untuk yang keberapa kalinya..saya mencoba merenungkan hidup ini. Ada saat-saat saya merasa menjadi orang paling malang di dunia. Ada saat-saat saya merasa bahwa semua hal yang Tuhan tempatkan disekeliling saya adalah suatu kesia-sia belaka. Tak jarang saya mengeluh pada Tuhan, atas kekurangan ini..kekurangan itu.

Saat melihat si penjual kue hari ini, saya merasa sangat malu. Ia dengan segala kekurangannya berusaha untuk berjuang hidup, sementara saya hanya berkutat dengan keluhan setiap harinya. Padahal hidup ini singkat, bagaikan pasir yang selalu mengalir keluar pada pengukur waktu..begitu pasir itu habis, habis pula waktu kita berada di dunia ini. Sekejap saja.

Saya memutuskan untuk meniru semangat si penjual kue. Saya ingin mengurangi keluhan-keluhan pada setiap doa-doa saya, menggantinya dengan ucapan syukur yang berlimpah. Saya ingin melakukan hal terbaik yang dapat saya lakukan pada setiap hal. Sekalipun itu hal kecil yang tidak berharga. Tuhan tidak menciptakan barang jelek. Jadi tidak ada lagi alasan untuk mengeluh setelah kau mengetahui hal ini. Hari ini..seorang tukang roti memberitahukannya kepada saya. Kira-kira, siapa ya malaikat yang diutus Tuhan untuk menyampaikan hal ini padamu?


Jumat, 03 Agustus 2007

Penyapu Jalanan

Selama ini saya tidak pernah berpikir secara serius mengenai hidup yang berguna. Hidup ini cukup saya jalani dengan "baik" dan "menyenangkan". Sampai saya membaca suatu catatan yang ditulis oleh Martin Luther King :

Jika seseorang disebut penyapu jalanan, ia seharusnya menyapu jalan seperti Michelangelo melukis, atau Beethoven membuat lagu, atau Shakespeare menulis puisi. Ia seharusnya menyapu jalanan sebersih-bersihnya sehingga semua penghuni surga dan dunia akan berhenti dan berkata, "Disini pernah hidup seorang penyapu jalan besar yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik."


Selasa, 31 Juli 2007

Prioritas



Dalam hidup, menjadi prioritas bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah mempersembahkan apa yang terbaik dari diri kita, itulah yang terbaik menurut saya. Karena kadang dengan menjadi "manusia yang di prioritaskan" kita menjadi lupa yang "paling prioritas" dalam hidup kita, Bapa.

Sebuah kisah yang menceritakan kasih Bapa, menyelamatkan 10 orang yang terkena penyakit kusta, penyakit yang sangat mematikan pada saat itu. Diantara para Yahudi yang terkena penyakit tersebut, satu diantara mereka adalah orang Samaria. Samaria, si bangsa kelas rendahan, kelas budak..yang dianggap tidak pantas dan tidak layak. Namun ketika mereka menerima kesembuhan, hanya si Samaria inilah yang kembali untuk berterima kasih kepada sang Penyembuhnya. Hanya si Samaria..

Dalam hidup, sering kali kita menjadi seperti Yahudi dalam perumpamaan tersebut. Kita menganggap diri kita mampu untuk bertindak sendiri, tanpa mengingat siapa yang ada dibalik layar hidup kita. Si boneka kayu yang menganggap dirinya begitu hebat dan hidup, sehingga ia mengira dirinya sendirilah yang mengendalikan tangan dan kakinya. Tanpa mengingat bahwa sebetulnya ada tali-tali tipis yang menuntun gerakannya, yang tanpa bantuan tali itu ia hanyalah seonggok boneka kayu yang tidak berdaya. Mati. Begitulah..tanpa Allah, kita hanyalah sebongkah tanah. Tidak ada gunanya.

Disaat kesulitan mendera..persis sama ketika penyakit yang dialami kesepuluh manusia itu, ia mulai diasingkan. Perlahan-lahan dijauhi karena kejayaannya sudah berlalu. Pada saat itulah baru kita sadari, kita membutuhkan pertolongan. Pada saat itulah, kita yang mengaku Kristen mulai giat berdoa dan mengeluh kepada Tuhan. Dan ketika Ia menjawab doa kita dengan menyingkirkan segala pencobaan yang kita hadapi..saat itulah kacang mulai lupa akan kulitnya.
Kesembilan orang Yahudi itu kembali ke kehidupan mereka, menunjukkan kepada muka umum bahwa mereka telah sembuh dan terbebas, sudah kembali seperti dulu. Yahudi yang dianggap bangsa kelas atas, orang-orang hebat tidak ingat lagi untuk seucap kata "terima kasih" kepada Yang Telah Memberinya Kesembuhan.
Benar kan? Pikirkan apakah hidupmu berlangsung dalam keadaan demikian?

Saat ini saya sedang mencoba belajar. Belajar untuk menjadi orang Samaria. Sekalipun ia bukan orang yang memiliki sesuatu untuk dibanggakan, tidak menjadi orang yang di prioritaskan bahkan seseorang yang dilupakan. Namun sikapnya membuat ia memiliki tempat yang istimewa di hati Allah. Belajar untuk rendah hati dan mengingat siapa yang memegang kendali atas hidup ini. Belajar untuk mengingat, atas ijin siapa jantung ini tetap berdetak. Atas perintah siapa hujan turun saat ini dan atas kehendak siapa tangan ini menuliskan tulisan ini. Belajar untuk tidak hanya mementingkan prioritas diantara manusia, namun juga berusaha untuk mejadi prioritas di Kerajaan Allah.

Sabtu, 30 Juni 2007

Kau Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandangmu

Seorang teman saya mengirimkan sebuah renungan pada pagi hari beberapa bulan yang lalu. Renungan itu berupa sebuah ilustrasi yang menggambarkan "kecil dan tak berdayanya" kita, manusia. Sering manusia sudah merasa begitu hebatnya, saling memojokkan dan merendahkan satu sama lain, padahal mereka karena kesombongannya enggan menyadari bahwa tidak ada yang lebih antara satu dan lainnya di mata Tuhan. Tuhan memandang dengan kasih yang serupa untuk anda dan saya, padahal dulunya kita hanyalah seonggok tanah tak berguna yang dibentukNya hingga menjadi "sesuatu" yang lebih berharga.
Tanpa saya sadari, renungan itu menjadi berkat dalam hidup saya. Dan saya ingin membaginya dengan anda...



Kau Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandangmu..

Ingatkan engkau ketika engkau mulai belajar berjalan? Ketika engkau mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak? Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil? Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu. Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu berdiri.

Dibawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu. Kau menengadah ketas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya. Tapi kau tak sanggup. Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.

Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu. Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya. Suara itu memanggilmu lagi. Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbangan ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.

Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memangilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi..tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang kau lihat disekelilingmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah, krayon dan tempat favoritmu, dibawah meja makan.

Kau berlari dan melongok ke bawah meja, kalau-kalau sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa lembut.
"Kemana kau mencari anakku? Lihat aku diatasmu."

Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir, "Hei lihat..aku dapat menemukanmu."

Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu dan mencoba menggapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduh..tanganmu tak dapat menggapainya.
Tiba-tiba ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau merasa kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tak dapat mencapainya..Ibu terasa begitu jauh.

Dan tiba-tiba, kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, "Nah, aku bisa menemukanmu." Kau menggapai dengan tanganmu dan, Hei lihat..sorakmu..Kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya. Ia tertawa dan menarik kau mendekat padanya dan mencium pipimu. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh..salah.. Akhirnya Ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.

Betapa sering kita merasa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita. Atau mungkin kita ingin sekali menjangkauNya tapi upss..tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapt menyentuhNya.

Pernahkah kita merasa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita berada dibawah kakiNya. Bahkan kita ada kurang dari 10cm dari hadapanNya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti PandangnNya. PandanganNya begitu dekat kepada kita, sehingga tangan-tanganNya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat kepadaNya.

BagiNya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita sekalipun terdengar di telingaNya. Ketika Ia menundukkan kepalaNya, ada kita di dekat kakiNya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cariNya, padahal kau ada di dekat kakiNya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipiNya, untuk membiarkanmu menarik rambutNya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu keatas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tanganNya.
Jadi, jika kau merasa begitu jauh dariNya..Ingat kau ada di dekat kakiNya...